When Violin Meets Piano

Mati, kematian. Hanya kata itulah yang memenuhi seluruh pikiranku. Saat ini aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih, mungkin sebentar lagi kepalaku akan meledak. Kalau hal itu benar-benar terjadi, berarti aku tidak perlu repot-repot untuk mengambil pisau yang sekarang ada di atas meja pantryku yang kemudian akan aku tusukkan ke bagian jantung atau perutku. Bagian jantung, karena ketika aku merasakan pedih yang teramat dalam dan sakit yang sangat menusuk dan tidak bisa aku sentuh, disitulah tempatnya. Bagian perut, karena... banyak sinetron dan film yang aku tonton menampilkan adegan bunuh diri salah satunya dengan menusuk perutnya sendiri. Tapi... tapi... aku tidak ingin membunuh dua nyawa sekaligus, apalagi jika aku menusuk perutku. Tentu saja yang lebih dahulu meninggal bukanlah aku, tetapi..., calon anak dari seorang lelaki yang sangat aku cintai, yang sudah membawa seluruh kepingan hatiku hingga tak ada yang tersisa sama sekali di dalam diriku.

Entah mengapa, walaupun sekarang aku sangat ingin mati, aku tidak ingin membiarkan darah daging yang masih ada di dalam perutku ini mati. Sungguh, aku ingin melihat wajahnya, ingin melihat bagaimana paras indah sesosok mungil dari benih lelaki tampan yang ditanamkan ke dalam rahim seorang perempuan berwajah biasa sepertiku. Ingin melihat apakah mata indah ayahnya dimiliki oleh calon anak yang sudah ada di perutku tiga bulan ini.

Yah..., tiga bulan. Tiga bulan sesudah lelaki yang sangat aku sayang meninggalkanku tanpa meninggalkan sebuah pesan perpisahan, tidak memberiku kabar selanjutnya akan keberadaannya sekarang. Aku benar-benar merindukannya, merindukan sosok yang tinggal di kamar apartemen sebelah kiriku. Sosok yang pagi sampai malam selalu dapat aku lihat hanya dengan duduk di serambi apartemenku ataupun langsung mengetuk pintu kamar apartemen bernomor 706 yang sekarang kosong ini. Kamar 706 sudah kosong, kemudian kamar bernomor 707 pun akan segera menyusul kosong dengan lebih dahulu ditemukannya raga tak bernyawa seorang wanita berumur dua puluh tahun yang hamil di luar nikah.

Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi.... Sudah tidak sanggup untuk hidup lagi....

Maafkan ibumu ini sayang, maaf karena aku tidak bisa membiarkanmu terlahir ke dunia yang terlampau indah tetapi takdir buruk bisa membayangimu kapan saja. Maafkan ibumu ini sayang, maaf karena ibu cepat sekali menyerah, ibu tidak punya alasan lagi untuk bisa hidup lebih lama lagi dengan sakit hati yang terlalu mendalam ataupun penderitaan hidup selanjutnya yang akan menyambut kita dengan segala hujatan yang akan kita terima dengan adanya sosok dirimu tanpa kehadiran sosok ayahmu. Semua alasan ibu untuk hidup hingga detik ini sudah dibawa pergi oleh ayahmu, lelaki yang ibu anggap sebagai lelaki terakhir yang akan selalu ibu cintai sampai ajal menjemput.

Mama, tolong maafkan aku. Maafkan aku yang menyusulmu dengan cara yang salah, dengan cara yang akan membuat Papa menangis sedih dan meratap tempat istirahat terakhirku nanti dengan gemuruh amarah yang tak akan pernah padam oleh waktu.

Aku rasa sudah cukup maaf-maafannya.... Sudah tidak ada waktu lagi untuk mengenang ataupun merenung terlalu lama. Adegan selanjutnya adalah adegan serius terakhir yang aku tampilkan untuk penonton kehidupanku. Dan inilah saatnya....

Aku berdiri, berusaha bangun dengan segenap kekuatan tubuh yang aku punya. Ahh, rasanya berat sekali, aku memang tidak ingat kapan terakhir kali aku makan, patah hati yang mendalam tidak pernah membuatku bernafsu untuk makan. Aku justru sangat terheran dan menganggap hebat orang yang patah hati tetapi nafsu makannya malah semakin membesar. Baik, aku lanjutkan. Sekarang aku berusaha berjalan, berjalan perlahan-lahan menuju meja pantry. Beberapa kali aku hampir terjatuh, selain karena lemasnya badanku, di lantai sekitarku terlihat berbagai macam benda yang aku jatuhkan akibat pelampiasan kesedihan yang terlampau hebat di dalam hatiku. Entah bagaimana aku menjatuhkan semua benda ini, aku lupa. Saking lupanya, bahkan aku tidak bisa mengingat kenapa bisa ada gulungan tisu toilet di wilayah yang jelas-jelas jauh sekali dari kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurku. Jelas-jelas aku sedang berada di dekat dapur, ruang terdekat dari dapurku malahan ruang tamu ataupun ruang santai yang terdapat sofa-sofa empuk berbulu, sofa dimana dulu lelaki itu pernah tidak sengaja tertidur disana ketika sedang menjagaku ketika aku demam tinggi dan tidak bisa berhenti menggigil seharian penuh.

Ah, dia lagi....

Dua langkah lagi aku akan semakin dekat dengan meja pantry. Ini dia..., pisau berganggang berwarna biru muda yang warnanya senada dengan alat-alat dapurku lainnya. Pisau itu bagus dan sangat tajam, saking tajamnya bahkan bisa memotong daging sapi dengan cepat sampai-sampai lelaki itu terheran-heran saat ia sedang membantuku memasak untuk makan malam kita berdua. Sayang sekali, pisau yang pernah ia sentuh ini akan menjadi tersangka utama dalam kematianku,  perempuan yang dulu pernah ia lamar di bukit belakang kampus kami dengan latar pemandangan temaram warna-warni lampu hias di pohon-pohon yang sengaja ia pasang bersama teman-temannya dan cahaya-cahaya kecil dari rumah-rumah warga di kota yang terlihat dari atas bukit itu.

Baiklah, tidak perlu keterusan mengenang lagi. Aku pun menggenggam pisau itu dengan erat lalu aku ayunkan ke atas, memasang ancang-ancang sebelum benar-benar aku hunuskan ke dada bagian tengah. Yah, dada bagian tengah saja, aku tidak tega untuk langsung menghunuskan ke jantung atau bagian perutku. Aku masih berharap setelah membunuh diriku sendiri dia akan datang dan segera menyelamatkan nyawaku. Ah sudahlah, sepertinya itu tidak mungkin terjadi....

Aku menghitung mundur dalam hati, ternyata ketika seseorang akan bunuh diri masih mengingat urutan angka-angka ya? Setidaknya aku mati dalam keadaan tidak bodoh sama sekali.

Tiga... Dua... 

Ahh, aku jadi ragu.... Aku takut sebenarnya.... Takut membayangkan bagaimana rasa sakitnya.... Ahh tapi sudahlah..., aku rasa masih lebih sakit luka hati ini daripada luka tusukkan pisau ini.

Tiga... Dua...

Sa...

"Alinka! Buka pintunya!!"

Tu....

Braak..., "Alinkaaaa!!!"

***

Udeh udeh, udeh cukup tegangnya! Sekarang balik ke posisi duduk seperti semula karena sekarang saatnya gue menceritakan apa maksud dari tulisan di atas. Nah, udah siap belum? Naikin dulu tuh celananya (lah emang abis ngapain?) Hahaa, maksudnya takutnya saking pada melorot dari tempat duduk waktu baca yang diatas, celananya pada ikut melorot deh. Hehh apa, lo kaga pake celana? Ohh lagi pake rok, dikira... (dikira ape??)

Apakah gue pernah cerita kalo gue bener-bener ingin menjadi seorang penulis? Lebih tepatnya sih penulis novel. Kenapa harus novel gak cerpen aja? Karena ketika gue memikirkan sebuah cerita, menurut gue ketika gue tulis entu cerita gak cukup sampai 10 halaman aja, menurut gue bahkan bisa sangat panjang sampai berpuluh-puluh halaman. Tapi sayangnya, ketika ide ceritanya ada dan gue pingin ngetik, ceritanya gak utuh, dan gue gak bisa melanjutkan sama sekali cerita tersebut.

"When violin meets piano" adalah salah satu ide cerita yang sangat-amat pengen gue selesain sebagai novel. Yang gue sebutin itu alat musik semua kan? Itu dia hambatan yang lainnya, gue bener-bener gak ngerti apa-apa sama yang namanya alat musik. Di atas itu cuma prolog-nya aja, gue bener-bener bingung gimana cara cari referensi yang tepat biar dalam cerita gue itu gue gak memalukan diri sendiri dengan sok tau-tauan menceritakan tentang alat-alat musik yang sebenarnya menggambarkan sosok tokoh-tokoh yang pengen gue tampilin dalam cerita itu. Ada yang bisa nolong gue kah?

Sebelum gue curhat lebih dalem lagi tentang kegalauan gak bisa nulis novel, gue mau ceritain "when violin meets piano" dengan gaya cerita gue sendiri. Gini nih...

Ceritanya ini ada dua tokoh utama, tentunya laki-laki dan perempuan. Tokoh utama perempuan namanya Alinka Savantiari yang keahlian alat musiknya tuh biola, sebenernya gitar juga. Tapi untuk jurusan di sekolah musiknya ini dia lebih cenderung milih biola, karena biola itu alat musik yang sangat disukai mendiang ibunya untuk didengar (karena ibunya, Savanti Rahmani, sebenernya gak bisa main biola, yang bisa mainin biolanya itu ayahnya Alinka, Ari Suprobo). Tokoh utama laki-lakinya namanya Damian Gavari yang udah bisa mainin piano sejak dia umur 5 tahun. Tunggu dulu, apa kalian nemu kemiripan antara dua tokoh utama ini? Yaa, Gavari (nama belakang Damian) itu gabungan dari nama Gavellin (ibu Damian) dan Ari Suprobo (yang tadi gue sebut sebagai ayahnya Alinka).  Berarti Alinka sama Damian saudaraan dong? Heyhey, tunggu dulu, kan gue belum ceritain semuanya. Tenang aja, gue gak mau niruin ceritanya "Autumn in Paris" Ilana Tan, ataupun ingin membuat cerita seperti komik "Marmalade Boy" Wataru Yoshizumi. Gue emang terinspirasi banget sama cerita mereka, tapi enggak kok ini tetap murni ide gue sendiri.

Yaa ternyata dalam masa lalunya orang tua Alinka sama Damian ini ada kerumitan sendiri. Mereka yang ribet yang apes malah anak-anaknya, kasian ya? Tapi tenang aja, gue gak mau anaknya Alinka sama Damian ini lahir cacat kok hahahaa. Di novelnya ini, gue pengennya make sudut pandang aku dari Alinka dan Damian secara gantian biar kita sama-sama tahu gimana perasaan masing-masing tokoh utamanya.

Tokoh pendukungnya itu ada Valleya Bianca dan Syahrizal Levino. Alley itu kemampuannya di vokal, jurusan di kampusnya tentu aja yang diambil vokal dan udah jadi primadona sejak masuk kampus itu. Kalo Vino sendiri jurusannya saxophone, eh sebenernya belum gue fix-in sih, pokoknya bagian dia gue ciptain megang alat musik tiup aja. Siapa mereka buat Alinka dan Damian? Alley itu sebenarnya calon tunangan Vino, tetapi dia itu mantannya Damian dan dia jatuh cinta lagi sama Damian ketika ketemu di kampus (karena ceritanya emang semuanya itu satu universitas bahkan satu angkatan semua) dan Vino juga mantannya Alinka, lebih tepatnya cinta pertama Alinka dan Vino juga alasan ia pindah ke daerah dimana sekolah musik ini ada dan masuk ke kampus entuuuuh. Tapi sayangnya Vino udah lupa sama Alinka, lupa sama janji yang dulu pernah ia buat sama Alinka untuk bertemu lagi di kampus yang sama ketika Alinka harus pindah bersama ayahnya sejak ibu Alinka meninggal. Nah, orang yang terus-terusan ngehibur Alinka itu yaa si Damian itu sampe akhirnya Alinka bener-bener sayang sama Damian, eh tapi nantinya ditinggal sama Damian. Atian yaaaaw? Dua kali ditinggal sama orang yang disayang, nyeseeek. Tapi nanti justru Vino yang nyelametin Alinka loh, itu tuh yang di atas, yang nemuin Alinka bunuh diri di kamar apartemennya. Vino ini setia banget loh sama Alley, walaupun Alley ngejar-ngejar Damian tapi dia tetep positive thinking sama Alley bahkan dia benci banget sama Damian karena nganggep Damian itu penyebabnya. Padahal Damian udah amit-amit sama Alley, bahkan selalu ngomong 'pait-pait-pait' kalo tiba-tiba Alley datang nemplok ke dia, dia udah sakit hati banget sama Alley karena dulu ngeduain Damian.

Dalem cerita ini juga, gue sengajain Alinka sama Damian tinggalnya sebelahan di gedung apartemen yang sama. Kenapa gue sok-sok-an pake apartemen? Elo pikir aje deh gimana anehnya seseorang yang sekolah di sekolah musik kece malah tinggal di rumah susun? Bisa-bisa waktu Alinka ceritanya lagi latihan biola, tetangganya ngira lagi mau ada penampakan di kamarnya kaya yang dia tonton di tipi malem-malem waktu lagi giliran ngeronda (kan kalo di film-film horror ceritanya waktu mau ada penampakan ada iringan musik biolanya). Kalo di kost, kasian temen-temen sebelahnya keberisikan waktu Alinka sama Damian lagi latihan. Kenapa gak rumah? Kan ceritanya mereka sama-sama tinggal sendiri, kalo rumah gede amet atuh buat mereka. Dan serambi apartemen mereka malah jadi penghubung ketemunya dua makhluk tersebut, tempat mereka makan malam bersama dengan dipisahin tembok pemisah antar serambi mereka (ketika udah mulai pada akrab dan saling menyadari perasaan masing-masing). Walaupun keliatan akur gitu pada nantinya, awalnya gak akur sama sekali loh soalnya Alinka ini emang ceroboh dan hampir tiap hari dia nabrak Damian dan selalu tepat wajahnya nabrak dadanya si Damian, dan habis ditabrak biasanya Damian pasang tampang wajah super seram kalo menurut Alinka, padahal sih maksud Damian gak gitu, emang wajahnya aja kalo lagi serius emang serem banget booo! Makanya Alinka nganggep kalo Damian itu benci banget sama Alinka, tapi ternyata Alinka salah kaaaaan....

Hosh hosh, panjang lagi deh post yang ini -_________-" Padahal kan gue gak mau nyelesain novelnya disini, hahahaa! Yah, pada intinya, gue bener-bener butuh saraaaaaaaaan dari kalian semua gimana gue harus nyelesain novelnya ini. Gimana referensi tentang semua alat musik dan kelengkapannya, terus endingnya enakan sad ending (salah satu dari mereka ada yang meninggal) atau happy ending (Alinka menikah sama Damian), atau gue harus ganti cerita lain yang lebih menarik untuk dijadikan sebuah novel. Pokoknya gue tunggu ya saran dari kalian semua! Gue bener-bener gak bisa ngandelin inspirasi yang datang saat poop ataupun dengan bersalto lima kali kemudian roll ke samping 17 kali di tiang jemuran untuk mendapatkan ide lagi. Makasyiiiih loooooh, maaf untuk post yang ini saya gak bisa ngelawak (bingung bagian mananya yang harus dilawakin -_____- ). Terima kasih!

2 komentar:

kisenda mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
kisenda mengatakan...

it seems that you are very good in telling story..
don't u ever think that's maybe your treasure talent..? hmm,,.. :)

sorry, udah post komen.. dihapus.
coba post lagi deh,Oc.

Posting Komentar