Jatuh Cinta dan Patah Hati

Ada yang tau kalo saya lagi patah hati? Hahaa, mungkin banyak yang udah tau. Satu demi satu cobaan menghantam saya, di usia menjelang dewasa ini. Saya bingung, sebenernya apa yaa salah saya? Sampe Tuhan tega betul berbuat seperti itu kepada saya?

Inilah manusia, berusaha menyalahkan pihak lain ketika dia sedang 'jatuh'. Saya tau, Tuhan selalu baik kepada saya. Doa-doa kecil saya selalu dikabulkan, hanya dalam hitungan menit. Sepertinya Tuhan marah kepada saya, karena saya menduakan diri-Nya dengan cinta yang lain, cinta yang agak tidak wajar, cinta saya kepada lelaki yang saya sayangi. Mungkin Tuhan lagi memperingati saya barangkali bahwa cinta kepada manusia jangan terlalu seperti 'itu'? Baiklah, saya rasa kamu juga bingung apa maksudnya dengan kata 'itu'? Maaf, saya tidak akan membuka rahasia saya sembarangan, kassiaaaan deh kamoooh!

Okeh, lanjut serius lagi. Patah hati adalah masalah yang faktanya dirasakan oleh seluruh manusia. Sini acungkan kakimu deh yang gak pernah patah hati? Aahhh jangan bohong, puasa loh bo puasa! Patah hati bisa dirasain sama yang punya pacar, ataupun yang gak pernah pacaran sekalipun. Percaya kan? Saya rasa kalian cukup ngerti akan hal ini, karena jatuh cinta adalah hal yang termudah dilakukan oleh seorang manusia. Eh, menurut yang lagi patah hati atau trauma gak mudah? Tunggu dulu, waktu belum sepenuhnya berjalan di hidupmu toh!

"Jatuh cinta", frase yang dikenal manusia bahkan dari kecil (walaupun waktu itu kalian lagi ingusan atau berupil numpuk di dalem hidung, kalian udah bisa ngerti frase itu). Dua kata yang berbeda arti dijadikan satu dan diawali oleh kata "jatuh". Mungkin kalian selalu denger ini: Jatuh itu sakit, makanya harus siap sakit ketika kamu merasakan jatuh cinta. Yaa, itu benar kan? Bahkan saya selalu bilang hal ini kepada teman saya yang patah hati, "ketika kamu pacaran, kamu harus siap disakiti suatu hari, entah bagaimana dan kapan itu terjadi." Tapi jangan sampe, kamu bener-bener nunggu disakitin ketika pacaran. Gile, orang lain gak mau disakitin lah ini ngapain sampe nungguin bahkan nyariin? Nah, kadang dengan fakta inilah orang selalu suudzon saat pacaran. Niatnya mau seneng dengan cinta-cintaan, eh ini malah nyari musuh dengan mulai pacaran! Nyari penyakit amat yaa....

Fakta lain dibalik jatuh cinta ini, adanya akibat negatifnya itu ketika suatu hubungan berakhir. Nih supaya mudeng, kalian sering kan denger orang bunuh diri cuma karena patah hati? (ketika kamu yang merasakan patah hati, kamu pasti gak akan bilang bahwa patah hati itu 'cuma') Saya adalah salah satu orang yang ingin bunuh diri karena hal itu, baru sekali ini saya rasakan patah hati yang terlalu buruk hingga orang lain heran, "Heloooooh elo diapain sih Ta?" Jujur, itu pertanyaan negatif yang paling tidak saya suka! Mencintai orang terlalu dalam bukan berarti karena diapa-apain juga kan? Saya hanya merasa menemukan orang yang tepat untuk dijadikan sosok pendamping saya suatu hari, tapi sekarang takdir sedang mengarahkan saya ke pendapat lain sepertinya. Well, walaupun emang bener adanya fakta kalo pacaran udah diapa-apain pasti susah lepas, terutama yang udah ML (tau dong artinya yaaaah). Saya udah denger berkali-kali cerita seperti ini, jangankan yang udah ML, yang baru memulai pacaran parah dengan 'ciuman' aja bisa susah lepas juga, ya kan? Oke, sekarang saya patah hati. Tapi tolong jangan anjurkan saya untuk segera mencari lelaki lain. Apa keuntungan selanjutnya setelah kita mendapatkan pelampiasan kita? Yang ada malah pihak yang tersakiti semakin banyak kan? Ingat kalimat ini baik-baik: jangan menyakiti orang lain kalau kita tidak ingin disakiti. Jangan memulai suatu karma, kalo kita bener-bener tidak ingin merasakan karma itu ataupun menurunkan karma itu kepada keluarga atau anak-cucu kita. Apapun hal yang membuatmu patah hati, percayalah, Tuhan telah menentukan jodoh kita masing-masing. Kata Bagir, jodoh itu unik, semakin unik lagi ketika kita mengejar orang yang kita sangka jodoh kita, tetapi pada akhirnya kita tetep bisa balik ke jodoh kita masing-masing itu. Kalian juga harus ingat, jangan memulai sesuatu dengan kebohongan, walaupun awalnya itu hanya sebuah pelarian. Kenyataan perlahan akan terbuka, walaupun datangnya belakangan.

Yah, sekarang saya gak tau lagi gimana kehidupan percintaan saya nanti. Saya merasa, lelaki ada mencintai saya untuk menyakiti saya diakhirnya. Kadang dengan fakta inilah, saya tidak mau menikah. Sejak saya putus dengan lelaki itu, tujuan saya menikah jadi lebih mengarah ke: saya ingin merasakan punya anak, dari tujuan utama awal saya yaitu: saya ingin menemani lelaki yang saya cintai dan mencintai saya sampai ajal menjemput kami. Tapi tetep aja, saya gak mau men-judge bahwa laki-laki itu adalah makhluk brengsek! Toh banyak kan fakta kalo perempuan yang menghancurkan hubungan suatu pasangan atau yang udah berkeluarga sekali pun? Kita juga harus sadar dengan apa-apa yang kita udah perbuat sebelumnya. Misal untuk yang sudah ML, kenapa kamu sampe kasih kesempatan ke pacar kamu untuk berbuat seperti itu? Hayo, ketemu kan sekarang jawabannya?

Saya sebenernya penasaran dengan 'tanda-tanda jodoh' yang Allah kasih untuk kita. Saya kira selama ini saya telah merasakan tanda-tanda itu, tetapi buktinya sekarang? Entahlah, saya akan terus menunggu kenyataan yang Allah janjikan untuk saya lima sampai tujuh tahun lagi. Walaupun sekarang saya harus merasakan sakit hati terlebih dahulu, apakah Allah sedang mengetes saya?

Tanggal 4 Agustus 2011 adalah tanggal terberat dalam hidup saya, saya gagal masuk ke PD UIN Jakarta (padahal ini harapan saya dan keluarga yang terakhir) dan lelaki yang sayangi pacaran lagi (saya tidak akan membuka fakta apa-apa tentang yang ini). Menurut kalian pasti sepele ya? Yah maaf ya kalo anggapannya seperti itu, tapi saya jadi tidak bisa makan (saya beruntung sekarang lagi puasa, jadi makannya dikit aja). Patah hati selalu membuat saya hilang nafsu makan.

Tapi, ada fakta lain yang harus saya sadari, bahwa semua manusia di dunia ini pasti punya masalah, entah kecil entah besar. Ketika saya menganggap bahwa masalah saya sudah sangat besar, ternyata ada orang lain yang curhat ke saya dan masalahnya amat-sangat-besar-bangeeeeets! Dan itu bikin saya tersadar, kalo saya masih lebih beruntung daripada dia (entah dimana untungnya ya?).

Sebenernya post ini bener-bener ngelantur kesana kemari, tapi  intinya yang saya tekankan disini adalah, bahwa setiap manusia punya masalah dan intensitasnya beda-beda. Dan dibalik semua masalah itu, pasti ada suatu kebaikan walaupun datengnya lamaaaaa amat! Tuhan udah mengatur takdir kita masing-masing, ketika kita diberi cobaan berarti Tuhan lagi kasih tau bahwa ada hal yang baik menanti kita di depan, asal kita sabar, ikhlas, dan tabah. Hampir semua orang yang menyemangati saya bilang kalo cobaan-cobaan ini adalah jalan saya menuju kesuksesan. Dan saya percaya dengan kalimat itu.

Bunuh diri bukan jalan utama penyelesaian suatu masalah, malah memulai masalah lain terus-terusan, walaupun kita ngerasainnya udah gak di dunia ini lagi sih (yaiya, kan udah mati ceritanya yang bunuh diri!) Saya juga sering meminta kepada Tuhan supaya umur saya dipendekkan saja, saya udah capek hidup di dunia. Tapi saya sadar, dosa saya masih terlalu banyak dan saya belum membahagiakan orang tua saya. Dan di sisi lain, masih banyak orang-orang yang menyayangi saya di sekitar saya. Saya belum mau melihat mereka menangisi jenazah saya, sebelum saya bisa membahagiakan mereka semua dan tugas saya di dunia belum selesai. Ketika mereka semua udah siap membiarkan saya mati, saya ingin mereka semua datang dan men-sholati serta mendoakan saya agar saya selamat menuju surganya Allah.

Terima kasih atas dukungan orang-orang terdekat saya yang mereka berikan untuk saya. Untuk orang tua saya, terima kasih untuk ketegaran dan semangat yang mereka berikan ketika saya benar-benar tidak bisa menjadi seorang dokter, tetapi menyemangati saya untuk menjadi sebagai psikolog sukses. Terima kasih Amalia Sophia, adik saya yang menenangkan saya atas kepatah-hati-han saya. Terima kasih untuh Hani, karena mau saya titipkan barang-barang spesial saya di rumahnya, gak lama kok Han nitipnya, paling hanya beberapa tahun sampai akhirnya saya bisa menerima kenyataan dan semua kebenaran terungkap. Terima kasih Kojeng dan Emi, yang selalu memberikan saya semangat dengan gaya cuek dan candaan mereka. Terima kasih untuk Bagir, yang dengan tabahnya berbagi kisah pahit dengan saya dan memberikan saya semangat, big hug from me to you boy! Perempuan itu pasti bahagia di alam sana, dan pasti kita bisa menemukan jodohnya masing-masing suatu hari nanti. Terima kasih untuk Ojan, temen dekat di SMA saya yang gak bosen bilang saya untuk 'move on' dan mau jadi korban ejekan saya, gue gak bisa gak ketawa sama lo cuy! Terima kasih Rina, walaupun aku menerima kabar buruk pertama kali tentang dia dari kamu, tapi kamu berhasil menenangkan aku. Terima kasih untuk Dhila, Alin, dan Nissa, temen kost saya yang pasti bisa banget ngehibur saya. Terima kasih Nuri, Ana, dan terutama Avi, temen kuliah saya yang juga bisa menghibur saya dan tetep khawatir dengan keadaan saya.  Kalian semua, jangan pernah berhenti memberi saya kekuatan ya!

Untuk pasangan baru yang disana, saya dengan tulus berharap semoga kalian bahagia dan langgeng! Semoga kalian bener-bener jadian karena sayang satu sama lain, bukan karena fakta buruk di balik itu. Mutia, tolong lanjutkan puzzle saya yang hampir jadi itu. Kalo kamu jodoh dia, pasti puzzle itu akan selesai dengan sempurna dan bisa kamu miliki seumur hidup kamu. Kalo ternyata kamu bukan, kamu baca kalimat saya di paragraf-paragraf yang atas. Puzzle itu mungkin akan bisa diselesaikan oleh perempuan yang tepat, bahkan saya tidak tau perempuan itu siapa. Saya punya firasat untuk hal ini, tetapi saya rasa firasat itu hanya bisa saya simpan sendiri saja. Nanti waktu yang akan menunjukkan.

Terima kasih untuk yang baca, maaf kalo saya terlalu curhat, terlalu lebay, terlalu blak-blakan, dan sebagainya. Anggap saja saya sedang melampiaskan perasaan saya yang kacau ini.

*Facebook saya sudah deactive, saya mencoba untuk membuat akun yang baru. Terima kasih.

0 komentar:

Posting Komentar